fbpx

Wakaf: Pengertian, Rukun, Syarat, Hukum & Macamnya

Tulisan ini akan membahas wakaf secara lengkap. Mulai dari pengertian apa itu wakaf, syarat, rukun, hukum hingga macam macam wakaf yang ada.

Wakaf Pengertian, Rukun, Syarat, Hukum & Macamnya

Kita mungkin sering membaca tentang wakaf. Misalnya, seperti masjid, pesantren atau sekolah yang dibangun di atas tanah wakaf. Banyaknya rumah ibadah, pesantren atau institusi pendidikan yang berdiri karena wakaf, terkadang membuat sebagian orang berpikir, apakah wakaf harus benar-benar terwujud dalam bentuk tanah atau sejenisnya? Agar lebih jelas, yuk kita simak penjelasan lengkap tentang wakaf berikut ini.

Pengertian Wakaf

pengertian wakaf

Wakaf berasal dari bahasa Arab, waqafa , yang berarti menjaga, berhenti atau tetap di tempat. Pada saat yang sama, menurut hukum Islam, wakaf berarti memberikan kepemilikan atas sesuatu, kepada orang lain yang bertugas sebagai pengelola, untuk waktu tertentu. Wali nadzir, atau penjaga wakaf tersebut dapat berupa individu atau institusi. Ia akan menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mengelola aset atau objek yang diwakafkan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, wakaf memang mirip dengan infaq, yaitu menyumbangkan aset yang dimiliki untuk kepentingan orang lain. Namun, ada perbedaan mendasar antara keduanya, yaitu periode penggunaan aset yang disumbangkan.

Durasi Infak sangat singkat karena akan digunakan sekaligus. Misalnya, sumbangan untuk memberi makan orang miskin dan sebagainya. Sedangkan jangka waktu penggunaan wakaf ini tahan lama dan bahkan dapat digunakan secara permanen.

Selain itu, infaq dapat disebarkan melalui saluran apa saja, seperti melalui kotak amal masjid. Sedangkan wakaf membutuhkan akad secara khusus yang akan dijelaskan nanti di bagian rukun dan syarat wakaf.

Perbedaan Wakaf, Infaq, Zakat, dan Sedekah

Untuk memahami secara komprehensif tentang pengertian wakaf, kita harus bisa membedakannya dengan istilah lain yang berkaitan. Dalam agama Islam, dikenal juga istilah infaq, zakat, dan sedekah.

Infak adalah seluruh proses pembelanjaan, atau aset yang dikeluarkan seorang muslim, baik untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, ataupun masyarakat secara umum. Misalnya seorang suami yang memberi nafkah untuk keluarganya, maka hal tersebut termasuk perbuatan infaq.

Sedekah adalah salah satu bentuk infaq, yang dilakukan secara ikhlas karena Allah, dan untuk kepentingan orang lain. Misalnya jika kita memasukkan uang ke dalam kotak masjid, maka itu termasuk dalam sedekah. Kemudian, jika uang kita tersebut digunakan untuk pembangunan masjid, maka itu termasuk ke dalam sedekah jariyah.

Terus, gimana dengan zakat? Zakat pada dasarnya termasuk ke dalam sedekah wajib bagi ummat Islam. Zakat memiliki hukum, rukun, dan syaratnya sendiri. Yang berzakat atau biasa disebut muzakki, dan penerima zakatpun, atau disebut mustahik memiliki persyaratan tersediri. Sehingga tidak semua orang bisa berzakat, ataupun menerima uang zakat. Kita akan membahas tentang zakat ini di kesempatan lain ya.

Sedangkan wakaf lebih khusus lagi dalam aturan dan tata caranya. Kita akan membahasnya lebih lanjut di tulisan ini. Simak sampai habis ya.

Syarat Wakaf

syarat wakaf

Sebagaimana ibadah lainnya di dalam Islam, wakaf juga memiliki beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar menjadi ibadah yang sah di hadapan Allah. Dalam tulisan ini, kami akan menguraikan secara lengkap syarat-syarat yang ada. Mulai dari syarat wakif/waqif atau orang yang mewakafkan harta bendanya, syarat mauquf, mauquf ‘alaih, shighat, dan beberapa syarat lainnya.

Namun sebelum menguraikan lebih lanjut, kita akan terlebih dahulu mengupas perbedaan antara syarat dan rukun. Karena mungkin ada dari beberapa pembaca yang masih kebingungan terkait hal ini.

Perbedaan Antara Syarat & Rukun

Apa perbedaan antara syarat dan rukun? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita akan menguraikan 3 poin.

1. Berbeda dalam Waktu

Syarat itu wajib dipenuhi sebelum dilaksanakannya ibadah. Contohnya syarat sholat. Salah satunya adalah wajib bersuci, baik menggunakan air wudhu ataupun tayamum menggunakan debu.

Sedangkan rukun, wajib dipenuhi saat sedang dilaksanakannya ibadah. Misalnya dalam ibadah sholat, rukun itu dimulai dengan niat, takbiratul ikhram, membaca Al Fatihah, hingga diakhiri dengan salam.

Demikian juga dengan syarat dan rukun wakaf. Namun hal ini akan kita bahas secara detail nanti.

2. Pengaruh terhadap Ibadah

Syarat itu mempengaruhi sah atau tidaknya suatu ibadah, sedangkan rukun, mempengaruhi apakah ibadah kita diterima atau tidak. Contohnya, ketika kita tidak bersuci sebelum sholat, maka secara otomatis, sholat kita tidak sah. Sedangkan jika kita tidak melakukan salah satu rukun sholat, misalnya tidak membaca Al Fatihah, maka sholat kita bisa jadi tidak diterima oleh Allah SWT.

3. Sifat

Syarat itu sifatnya mengikat yang mempengaruhi apakah kita bisa melakukan ibadah tersebut atau tidak. Misalnya jika kita memiliki harta senilai 85 gram emas, selama setahun, maka kita terikat untuk melakukan zakat mal.

Sedangkan rukun itu sifatnya memaksa dan wajib dilaksanakan. Contohnya jika kita telah terikat untuk melakukan zakat mal, maka kita wajib untuk menyalurkan 2,5% dari harta kita yang tersimpan.

Jadi, sudah paham khan perbedaan antara syarat dan rukun? Jika masih bingung, yuk kita diskusikan di kolom komentar.

Syarat Pertama: Waqif

Apa itu waqif? Waqif adalah orang yang berwakaf, atau menyumbangkan aset yang dimilikinya sesuai syarat dan rukun wakaf. Dalam hal ini, ada 4 syarat waqif sekaligus uraiannya berikut ini:

  1. Merdeka dan memiliki kemampuan untuk bertindak secara hukum (rasyid). Artinya, orang tersebut bukan budak, tawanan, ataupun secara hukum tidak memiliki hak untuk membuat keputusan.
  2. Berakal. Artinya orang tersebut bisa menangkap dan memproses informasi dengan baik, tidak memiliki kondisi yang menghalanginya untuk berpikir dengan jernih. Karenanya, orang gila, orang yang sedang mabuk, dan anak kecil yang belum bisa berpikir, tidak sah untuk melakukan wakaf.
  3. Dewasa atau dengan kata lain, baligh. Orang yang baligh secara hukum juga memiliki keterikatan untuk melakukan ibadah wajib dalam Islam, seperti sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, zakat, dan ibadah haji jika mampu. Sedangkan anak-anak yang belum wajib beribadah, juga tidak sah ketika menyumbangkan asetnya untuk berwakaf.
  4. Memiliki hak penuh terhadap aset. Artinya, harta benda yang diwakafkan, haruslah dimiliki penuh oleh sang waqif. Sedangkan harta bersama, ataupun harta yang masih berada dalam sengketa, tidak bisa dijadikan wakaf.

Syarat Wakaf yang Kedua: Mauquf

Mauquf adalah harta, benda, ataupun aset yang dijadikan objek wakaf. Ada beberapa syarat terkait mauquf ini.

1. Memiliki nilai

Mauquf itu harus memiliki nilai atau dengan kata lain, berharga. Tidak sah jika aset yang dijadikan wakaf tidak memiliki nilai yang bisa dipergunakan untuk kepentingan dakwah.

Contoh aset berharga ini banyak sekali. Mulai dari tanah, bangunan, kendaraan, uang, hingga aset digital yang memiliki nilai tinggi di dunia modern saat ini.

2. Diketahui kadar atau jumlahnya

Aset yang diwakafkan harus diketahui kadar atau jumlahnya. Jika dalam bentuk tanah, maka harus diketahui pasti berapa luasnya. Ketika dalam bentuk uang, maka wajib diketahui berapa dan dalam mata uang apa. Tidak sah jika mauquf itu majhul, atau jumlahnya tidak jelas.

Kadar aset ini penting diketahui karena terkait dengan syarat dan rukun yang terkait dengan akad atau shighat yang nanti diucapkan.

3. Berdiri sendiri

Mauquf itu mestilah berdiri sendiri, tidak melekat dengan aset lain (mufarrazan) di luar yang diwakafkan.

Ketika ada seseorang mewakafkan roda mobil, namun roda tersebut masih digunakan di mobil yang masih digunakannya sehari-hari, maka hal tersebut tidak dianggap sebagai wakaf. Begitupula saat ada yang mewakafkan salah satu kamar di rumahnya, sedangkan rumah tersebut masih di bawah kepemilikannya, maka secara hukum, hal tersebut tidak sah.

4. Dimiliki secara sah

Aset yang dijadikan mauquf haruslah dimiliki secara sah oleh sang waqif. Aset hasil curian, ataupun milik orang lain yang didapatkan secara tidak sah, tidak bisa dijadikan mauquf.

Ketiga: Mauquf ‘Alaih dan Nadzir

Nadzir adalah individu ataupun organisasi yang berhak mengelola dan menerima aset wakaf. Sedangkan mauquf ‘alaih adalah orang ataupun lembaga yang menerima manfaat langsung dari mauquf tersebut.

Orang ataupun lembaga yang berperan sebagai mauquf ‘alaih ini harus mampu menerima, mengelola, serta memberikan kebermanfaatan mauquf kepada penerima wakaf ataupun ummat Islam secara umum.

Nadzir juga harus amanah dan profesional, sehingga aset yang diwakafkan bisa semakin berkembang dan terus memberikan manfaat. Salah satu contoh nadzir yang amanah dan profesional adalah pengelola mauquf Utsman bin Affan ra. yang kebermanfaatannya masih terasa meskipun Utsman telah wafat 14 abad yang lalu.

Rukun Wakaf

Rukun wakaf adalah hal-hal yang harus ada dan dilakukan saat berwakaf. Di Indonesia, rukun ini tertuang dalam pasal 6 Undang-undang No. 41 Tahun 2004, yang mengatur tentang unsur-unsur wakaf.

Apa saja sih rukun yang wajib dilakukan saat proses wakaf? Yuk kita simak.

  1. Wakif atau perwakilannya.
  2. Nadzir atau pengelola wakaf yang menerima aset untuk diolah dan didistribusikan kepada yang berhak.
  3. Aset yang diwakafkan (mauquf), baik berupa benda nyata yang diserahterimakan secara langsung, bukti kepemilikan seperti sertifikat, ataupun transfer virtual untuk aset yang bentuknya digital.
  4. Ikrar atau shighat, yang dilakukan wakif kepada nadzir. Ikrar ini bisa dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
  5. Setelah ikrar, nadzir akan menerima, mengelola, dan mendistribusikan mauquf kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
  6. JIka dalam ikrar, sang wakif memberikan batasan waktu tertentu, maka setelah batasan waktu itu habis, nadzir akan mengembalikan kepemilikan aset kepada wakif. Jika tidak ada batasan waktu, maka mauquf tersebut selamanya tidak boleh diambil oleh wakif yang bersangkutan.

Untuk aset seperti tanah dan bangunan, pemerintah akan menerbitkan sertifikat legal formal. Sertifikat ini menegaskan bahwa tanah atau bangunan tersebut adalah mauquf, sehingga tidak boleh lagi diperjualbelikan, dan hanya bisa dikelola oleh sang nadzir.

Hukum Wakaf

hukum wakaf

Pada dasarnya, ada 2 jenis hukum yang terkait dengan wakaf ini. Pertama adalah hukum berdasarkan agama Islam, yang berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah. Yang kedua adalah hukum positif yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdasarkan pada Undang-Undang nomor 41 tahun 2004 yang diatur pelaksanaannya dalam Peraturan Pemerintah nomor 42 tahun 2006.

Hukum Islam

Secara umum, hukum wakaf dalam Islam adalah sunnah. Namun begitu banyak keutamaannya, sehingga jika kita mengetahui, niscaya kita akan berlomba-lomba mewakafkan aset yang kita miliki.

Awal disyariatkan wakaf ini terjadi ketika Umar bin Khatab ra. berkonsultasi kepada Nabi Muhammad saw. terkait tanah yang ia peroleh. Umar ra. mendapatkan bagian tanah Khaibar. Namun karena sifat zuhudnya, ia merasa terlalu mencintai tanah tersebut, dan tidak ingin mengganggu kecintaannya kepada Allah SWT.

Rasulullah saw. pun memberikan saran kepada Umar agar menahan tanah tersebut, dan menyedekahkan hasilnya. Menahan dalam hal ini, berarti tidak boleh dijual, tidak boleh diberikan kepada orang lain (hibah), dan juga tidak boleh diwariskan. Sedangkan hasil dari pengelolaan tanah tersebut harus diinfakkan kepada orang-orang yang berhak.

Umar ra. pun menyetujui usulan Nabi saw, dan seketika itu juga melakukan ikrar untuk mewakafkan tanahnya. Hingga sahabat-sahabat Rasulullah saw. pun berlomba-lomba untuk mewakafkan aset mereka demi kepentingan dakwah Islam saat itu.

Hukum Positif

Di Negara Indonesia, hukum khusus yang berkaitan dengan wakaf, diundangkan tahun 2004. Hal ini tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 41 tahun 2004.

Undang-undang ini mengatur tentang kewakafan. Diantaranya adalah wakaf sebagai sebuah perbuatan hukum, lembaga nadzir, pejabat pembuat akta ikrar shighat, Badan Wakaf Indonesia, dan hal-hal lain yang terkait.

UU ini kemudian diatur pelaksanaannya dalam PP no. 42 tahun 2006. PP tersebut mengatur lebih detail tentang kewakafan dan tata laksananya secara legal. Hal ini terutama terkait dengan mauquf yang merupakan objek rawan sengketa, seperti tanah dan bangunan.

Macam Macam Wakaf

macam macam wakaf

Berbicara tentang macam-macam wakaf, kita akan dihadapkan pada berbagai pilihan yang beragam. Jika dulu zaman Sahabat ra. mungkin hanya berupa tanah, kebun, dan bangunan, maka saat ini, kita bisa mewakafkan aset lain yang kita miliki. Bahkan peruntukannya pun bisa berbeda-beda.

Apa sajakah macam macam wakaf itu? Yuk kita simak berikut ini.

Berdasarkan Peruntukan

Kekita berwakaf, sang waqif bisa memilih penerima manfaat wakaf tersebut. Dalam hal ini, peruntukan mauquf bisa digunakan hanya untuk kerabat, masyarakat umum, ataupun kepentingan dakwah. Berdasarkan peruntukannya, terdapat 2 jenis:

  1. Wakaf Ahli. Dikenal juga dengan dzurri atau ‘alal aulad. Dalam hal ini, aset yang diwakafkan ditujukan untuk kepentingan keluarga ataupun kerabat terdekat. Ini untuk menjamin bahwa anak cucu sang waqif tidak akan kekurangan dan juga tidak akan bertengkar memperebutkan harta warisan. Contohnya bisa terlihat dari rumah gadang di suku Minang. Ada yang bisa memberikan contoh lain?
  2. Wakaf Khairi. Mauquf yang diwakafkan digunakan untuk kepentingan agama dan kebajikan secara umum. Inilah jenis yang biasa dijumpai di sekitar kita, seperti masjid, pesantren, mobil ambulans swadaya masyarakat, dan lain-lain.

Berdasarkan Jenis Aset Mauquf

Berdasarkan jenis atau bentuk asetnya, Wakaf terbagi menjadi tiga: aset tidak bergerak, uang, dan aset dinamis selain uang.

1. Aset tidak bergerak.

Aset jenis ini biasanya terdiri dari tanah, bangunan, tanaman di kebun, sawah, dan benda tidak bergerak lainnya. Jenis aset inilah yang lazim dikenal di masyarakat sebagai objek wakaf.

2. Uang.

Ada dua skenario dalam mewakafkan uang ini. Pertama, kita bisa mewakafkan uang kepada nadzir. Kemudian nadzir tersebut akan menggunakannya untuk kepentingan dakwah ataupun kemaslahatan umum.

Kedua, kita bisa mewakafkan uang, yang akan digunakan sebagai modal untuk membeli/menciptakan aset lain. Aset tersebut kemudian kita wakafkan. Salah satu contohnya adalah program Wakaf Digital Video Al Quran yang kami inisiasi.

3. Aset bergerak selain uang

Aset ini sifatnya mudah dipindahkan, bisa habis ataupun tidak, dan bersifat fleksibel. Contohnya adalah kendaraan, surat berharga seperti saham, hak atas kekayaan intelektual (HAKI), ataupun aset digital seperti video yang bisa digunakan untuk kepentingan syiar Islam.

Berdasarkan Waktu

Ditinjau dari segi waktu, wakaf terdiri atas 2 macam:

  1. Muabbad. Yaitu yang asetnya diberikan untuk selamanya. Konsekuensinya, waqif dan ahli warisnya tidak bisa mengambil kembali aset tersebut.
  2. Mu’aqqot. Yaitu ketika waqif mengikrarkan bahwa asetnya diwakafkan sementara. Ketika waktunya habis, maka aset tersebut kembali menjadi hak milik sang waqif.

Demikianlah penjelasan kami. Semoga bisa menjawab pertanyaan tentang pengertian, syarat, rukun dan macam macam wakaf. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Jika ada yang ingin ditanyakan atau dikoreksi, silahkan tuliskan di kolom komentar. Kami akan dengan senang hati menjawabnya. Alhamdulillah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top